By Lisra Evaeni
Oleh: Supervisor HRD Stella Maris
Dalam proses rekrutmen, istilah “ghosting” semakin sering kita dengar. Ghosting adalah situasi ketika salah satu pihak—HRD atau kandidat—tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Tidak membalas pesan, tidak hadir di jadwal wawancara, atau tidak memberi informasi setelah proses seleksi.
Fenomena ini terjadi di banyak perusahaan, dan mungkin juga pernah dialami oleh sebagian besar pencari kerja. Pertanyaannya, siapa sebenarnya yang lebih sering melakukan ghosting: HRD atau kandidat?
- Ketika HRD Meng-ghosting Kandidat
Banyak kandidat merasa kecewa saat tidak mendapat kabar setelah mengirim lamaran atau mengikuti wawancara.
Beberapa alasan umum yang biasanya terjadi:
Proses seleksi sedang penuh, sehingga HRD fokus pada kandidat yang sudah lolos tahap berikutnya.
Jumlah pelamar sangat banyak, membuat HRD sulit membalas satu per satu.
Perubahan kebutuhan perusahaan, misalnya posisi ditunda atau dibatalkan.
Keterbatasan waktu, terutama jika HRD menangani beberapa posisi sekaligus.
Walau begitu, HRD idealnya tetap memberi informasi—setidaknya mengirimkan pemberitahuan bahwa kandidat belum memenuhi kualifikasi. Komunikasi sederhana bisa menghindari kesalahpahaman.
- Ketika Kandidat Meng-ghosting HRD
Di sisi lain, HRD juga sering menghadapi kandidat yang tiba-tiba menghilang. Contohnya:
Tidak hadir wawancara tanpa kabar.
Tidak membalas email atau pesan.
Menghilang setelah menerima offering letter.
Menerima pekerjaan lain tetapi tidak memberi tahu.
Beberapa alasan yang sering terjadi:
Kandidat mendapat tawaran lebih menarik.
Kandidat merasa tidak cocok setelah membaca job description.
Rasa takut atau tidak nyaman menghadapi proses seleksi.
Sekadar kurang disiplin dalam komunikasi.
Fenomena ini semakin meningkat seiring banyaknya lowongan dan kemudahan melamar pekerjaan secara online.
- Lalu, Siapa yang Lebih Sering Ghosting?
Jawabannya… keduanya sama-sama bisa melakukan ghosting.
Namun dari pengalaman di lapangan:
HRD cenderung ghosting di tahap awal (lamaran belum dibalas atau proses lama).
Kandidat lebih sering ghosting di tahap akhir, terutama ketika sudah dijadwalkan wawancara atau mendekati tanda tangan kontrak.
Artinya, ghosting bukan hanya masalah dari satu pihak, tetapi kurangnya komunikasi dari kedua belah pihak.
- Bagaimana Mengurangi Ghosting dalam Rekrutmen?
Untuk HRD:
Beri update singkat meski kandidat tidak lolos.
Gunakan pesan template untuk mempercepat komunikasi.
Tunjukkan profesionalisme dan empati.
Untuk Kandidat:
Balas pesan meski hanya untuk menolak dengan sopan.
Beri tahu bila ada perubahan rencana.
Tunjukkan sikap profesional sejak awal.
Komunikasi yang jelas membuat proses seleksi lebih nyaman bagi semua orang.
Penutup
Ghosting dalam rekrutmen bukan hal baru, tetapi semakin terasa di era digital. Baik HRD maupun kandidat sama-sama punya tanggung jawab untuk menjaga komunikasi. Dengan saling menghargai waktu dan usaha masing-masing, proses rekrutmen bisa berjalan lebih manusiawi, jujur, dan menyenangkan.
Pada akhirnya, hubungan baik selalu dimulai dari komunikasi yang sederhana.